Era teknologi informasi kita hari ini berhutang pada kontribusi perempuan-perempuan yang luar biasa. Pasalnya dalam sejarah, perempuan memainkan peran penting dalam perkembangan teknologi informasi. Sayangnya peran-peran ini seringkali hanya memperoleh tempat di catatan kaki dalam buku sejarah. Pada hari Kartini ini, yuk sob, kita kenali sejenak perempuan-perempuan hebat ini.

  1. Ada Lovelace (1815-1852)

Ada Lovelace adalah perempuan dengan ketertarikan yang unik pada zamannya. Kecintaannya pada matematika dan bakat puitis dari ayahnya memampukan Lovelace untuk melihat ‘keindahan’ pada mesin-mesin Charles Babbage yang di kemudian hari akan mentor sekaligus rekannya. Lovelace menyebut mesin buatan Babbage sebagai ‘mesin yang puitis’.

Didorong oleh suaminya, Lovelace kemudian menjadi rekanan Babbage dalam proyek mesin analitik, cikal bakal penemuan komputer hari ini. Ia adalah perempuan yang menulis draft algoritma untuk mesin analitik Babbage agar dapat melakukan komputasi. Kerja sama keduanya, membawa Charles Babbage terkenal sebagai bapak komputer dunia.

Dalam catatannya, Ada Lovelace menulis, “mesin analitis sama sekali tidak memiliki inisiatif apapun.” “Mesin itu dapat mengerjakan apapun yang kita perintahkan. Mesin tersebut dapat menuruti analisis buatan kita, tetapi tidak mampu memahami relasi atau kebenaran analitis.” Berkat tulisan dalam catatannya ini, Ada Lovelace kemudian dikenal sebagai pemrogram komputer pertama di dunia.

  1. Grace Hopper (1906-1992)

Grace Hopper adalah ilmuwan komputer, rekan profesor di Universitas Vassar. Setelah 10 tahun mengajar, ia bergabung dengan relawan Angkatan Laut Amerika Serikat bernama WAVES. Ia ditugaskan di departemen pemrograman komputer. Hopper saat itu terkenal dengan keahliannya menerjemahkan masalah lapangan menjadi persamaan matematis yang abstrak.

Karirnya ini mengantar Hopper untuk mulai memprogram Harvard Mark II, komputer elektromagnet yang dibiayai oleh Angkatan Laut AS. Pada 1953 Hopper menemukan FLOW-MATIC, program compiler yang dapat menerjemahkan instruksi berbahasa Inggris ke bahasa komputer yang dituju. Program ini menjadi pendahulu yang memicu pengembangan COBOL (Common Business Oriented Language).

“Manusia alergi pada perubahan. Mereka suka bilang ‘kami selalu melakukannya dengan cara ini.’ Aku selalu mencoba untuk melawan itu. Karenanya aku punya jam di rumahku yang berputar ke arah sebaliknya,” demikian Grace Hopper, sang Ratu Perangkat Lunak, sempat berujar.

  1. Sister Mary Kenneth Keller (1913-1985)

Mary Kenneth Keller adalah perempuan pertama yang memperoleh gelar Ph.D dalam ilmu komputer. Ia memperoleh gelar sarjana dan masternya di Universitas DePaul di Chicago dan memperoleh studi juga di Dartmouth. Baru pada tahun 1960 ia melanjutkan studinya ke Universitas Wisconsin, Purdue, dan Michigan, di sana ia memperoleh gelar Ph.D-nya.

Selama studinya di Dartmouth, Keller berperan penting dalam mengembangkan bahasa komputer Beginner’s All-Purpose Symbolic Instruction Code (BASIC). BASIC berperan besar dalam menciptakan inklusifitas penulisan perangkat lunak yang selama ini hanya terbatas pada matematikawan dan ilmuwan. Kontribusinya ini membuat komputer menjadi lebih mudah diakses oleh kalangan masyarakat yang lebih luas.

Keller sangat menyadari bahwa dunia, “mengalami ledakan informasi… dan informasi tak berguna kecuali ia tersedia.” Keller adalah yang pertama mendobrak aturan tak tertulis bahwa teknologi informasi adalah eksklusif untuk laki-laki. Sister Mary Kenneth Keller kemudian direkrut untuk mengajar di Clarke College di Dubuque, Iowa. Di sana ia tumbuh dan berbagi ilmunya selama 20 tahun.

  1. Betty Jean Jennings Bartik (1924-2011)

Jean Bartik mendapat gelar master di bidang matematika Universitas Pensylvania tahun 1967. Keterlibatannya dalam proyek menghitung arah lintasan misil secara manual membuatnya terpilih menjadi pemrogram dalam proyek pengembangan mesin Electronic Numeric Integrator and Computer (ENIAC). Proyek ini dibutuhkan oleh militer AS dalam perang dunia II.

Sehari sebelum dioperasikan, ENIAC sempat tak bekerja. Bartik dan 6 perempuan lainnya dalam tim inilah yang menyediakan waktunya semalam penuh untuk memperbaiki mesin raksasa seberat 30 ton ini. Bersama timnya ini, Bartik mengembangkan dasar-dasar pemrograman untuk mengoperasikan ENIAC.

Jasa Jean Bartik dan timnya tak dilirik siapapun hingga beberapa dekade kemudian. Baru pada 1997 nama mereka dimasukkan ke Women in Technology International (WITI). Bartik mengatakan, “Orang-orang sama sekali tak mengetahui, mereka tak pernah bertindak meski kami mengerti apa yang kami lakukan. Maksudku, kita cuma sebagian kecil dari gambar yang sangat besar.”

  1. Radia Perlman (1951-sekarang)

Radia Perlman adalah pelajar yang pandai pada segala mata pelajaran sekolah. Namun minatnya jatuh pada matematika dan ilmu alam, karena menurutnya lebih mudah bila mata pelajarannya punya jawaban yang pasti. Perlman melanjutkan studinya ke MIT sebagai satu dari sedikit perempuan di kelasnya.

Perempuan ini memperoleh popularitas atas jasanya menciptakan Spanning Tree Protocol (STP) pada 1984. STP adalah teknologi yang menjadi pendahulu terkait penghubungan banyak komputer, konsep yang hari ini lebih dikenal dengan internet. Berkat temuannya ini, Perlman memperoleh julukan Ibu Internet. Meski membanggakan, Perlman mengaku enggan dijuluki demikian. Baginya, tak ada penemu tunggal, internet adalah hasil kolaborasi semua orang.

“Dalam dunia insinyur, yang terpenting adalah memastikan pekerjaanmu selesai, dan orang-orang akan dengan senang hati membantu. Kau harus tetap rendah hati di hadapan penghargaan, dan tetap senang membantu sesama,” ungkap Perlman.